Feeds:
Posts
Comments
KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI

(sumbangan pemikiran kolektif)

 Dr. Ir. Illah Sailah, MS

 

Pengantar

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang dituangkan dalam SK Mendiknas  045/U/2002 tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi, tidak segera dipahami karena belum ada penjelasan yang rinci pada masa itu. Akibatnya, para pendidik dan pengembang kurikulum di berbagai Perguruan Tinggi terjebak dalam membuat kotak-kotak dan kelompok mata kuliah dan menjadi perdebatan walau pada bidang sejenis. Kurikulum memiliki makna yang beragam baik antar negara maupun antar institusi penyelenggara pendidikan. Hal ini disebabkan karena adanya persepsi yang berbeda terhadap kurikulum, yang kebanyakan memandang kurikulum sebagai suatu rencana (plan) yang dibuat oleh seseorang atau sebagai suatu kejadian atau pengaruh aktual dari suatu rangkaian peristiwa (Johnson, 1974).  Sebagai suatu rencana, dokumen kurikulum merupakan acuan tindakan dan proses pembelajaran untuk menghasilkan lulusan dalam suasana pembelajaran yang kondusif. Sedangkan jika dipandang sebagai suatu kejadian aktual maka dokumen kurikulum bersifat deskriptif serta bertindak sebagai suatu laporan atau catatan.

Pada buku Tanya Jawab seputar KBK (yang diterbitkan oleh Dikti 2005), menyebutkan bahwa sampai saat ini kurikulum pendidikan tinggi yang banyak digunakan mengacu pada SK Mendikbud Nomor 056/U/1994 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa sebagai penjabaran PP No. 30/1990. Secara umum anatomi kurikulum yang berlaku dapat dikelompokkan menjadi kurikulum inti dan kurikulum lokal. Seiring dengan berlakunya PP No. 60/1999, Pasal 13, ayat (3) yang menyebutkan bahwa kurikulum yang berlaku secara nasional untuk penyelenggaraan program studi di atur oleh Menteri, maka sebagai tindak lanjut keluarnya SK Mendiknas No 232/U/2000 ditetapkanlah SK Mendiknas No 045/U/2002 tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi.  SK Mendiknas No. 232/U/2000, Bab IV  mengatur perihal perubahan kurikulum secara anatomis  menjadi Kurikulum Inti dan Kurikulum Institusional yang sepintas masih mirip dengan pembagian kulikulum sebelumnya, yaitu kurikulum nasional dan kurikulum lokal.

Landasan pikir tentang pedoman penyusunan kurikulum pendidikan tinggi dalam konsep perubahan SK Mendikbud No. 056/U/1994 tersebut adalah:

*  Adanya tuntutan agar pendidikan tinggi lebih bersifat humanis dalam memasuki abad XXI, sehingga mendorong adanya kurikulum nasional (core curriculum) dalam suatu situasi dimana teknologi menjadi bagian kebudayaan berikut dengan implikasinya sebagai bekal kompetensi yang diperlukan oleh seseorang untuk mampu melakukan perubahan ke kehidupan dewasa (cultivating student’s ability to pursue one’s own end). Sementara itu, kurikulum tahun 1994 dianggap tidak lagi sesuai dengan tuntutan pada masa itu.

*  Adanya tuntutan lain abad XXI tentang pendidikan tinggi yang harus diakomodasi oleh kurikulum nasional yaitu : (1) politisasi pendidikan yang menyatu dengan strategi pembangunan (termasuk “industri” jasa pendidikan sebagai barang niaga); (2) kebutuhan pembelajaran sepanjang hayat (lifelong education); dan (3) internasionalisasi (recovergent phase of education) serta aliran tenaga kerja dan mahasiswa lintas negara yang dalam globalisasi dikenal sebagai etnoscapes.

Berkaitan dengan pendidikan yang bersifat humanis, maka diperlukan muatan nilai kebudayaan di dalam pendidikan tinggi, mencakup :

(i)      fenomena anthrophos dicakup dalam pengembangan manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, berkepribadian mantap, dan mandiri serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

(ii)    fenomena tekne dicakup dalam penguasaan ilmu dan ketrampilan untuk mencapai derajat keahlian berkarya.

(iii)  fenomena oikos dicakup dalam kemampuan untuk memahami kaidah kehidupan bermasyarakat sesuai dengan pilihan keahlian dalam berkarya.

(iv)  fenomena etnos, dicakup dalam pembentukan sikap dan perilaku yang diperlukan seseorang dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan ilmu dan keahlian yang dikuasai.

Dalam proses pembelajaran seperti ini maka pendidikan tinggi tidak hanya sekedar suatu proses transfer of knowledge, namun benar-benar merupakan suatu proses pembekalan yang berupa method of inquiry seseorang. Oleh karena itu, dewasa ini telah terjadi pergeseran pembelajaran yang menghendaki adanya pola pikir yang berubah baik dari pengajar maupun pembelajar.

Hasil Kajian Dikti tentang kesiapan Implementasi KBK

SK Mendiknas No 232/U/2002 menghendaki KBK ini diimplementasikan di semua perguruan tinggi. Bahkan pada Kepmen tersebut dinyatakan batas waktu implementasi sebelum 20 Desember 2002. Namun, setelah dilakukan kajian oleh Dikti pada tahun 2003, ternyata hasilnya masih jauh dari yang diharapkan. Kajian tersebut menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan tujuan untuk mengetahui kesiapan implementasi KBK yang ditinjau dari dua dimensi yaitu pemahaman terhadap KBK dan implementasinya dengan sub dimensi antara lain kesadaran, kesiapan mental, persepsi, sikap dan perilaku dalam menanggapi KBK. Hasil secara rinci dapat dilihat di Laporan Dikti mengenai Penelitian dan Pemahaman tentang KBK. Secara umum dapat disimpulkan dari kajian tersebut bahwa di lapangan terjadi keragaman yang begitu besar terhadap pemahaman/persepsi terhadap KBK dan berbeda berdasrkan lapisan struktur hirarki perguruan tinggi. Alasan lain yang menyebabkan keragaman tersebut adalah kurangnya bahan rujukan yang dapat digunakan dalam menyusun KBK dan masih ditemuinya berbagai kendalam dalam implementasinya. Kendala tersebut datang dari besarnya resistensi dosen, dan belum tersedianya dokumen hasil tracer study 

 

 

Pendekatan Baru dalam Penyusunan KBK

Kurikulum merupakan rambu-rambu untuk menjamin mutu dan kemampuan sesuai dengan program studi yang ditempuh. Kurikulum berbasis kompetensi yang diinginkan mengandung beberapa keuntungan, yaitu diperolehnya learning outcomes yang sesuai dengan dunia kerja (baik mereka sebagai pekerja maupun sebagai pencipta lapangan kerja) yang ditunjukkan dengan terpenuhinya societal needs, industrial needs, dan professional needs. Learning outcomes merupakan kemampuan mengintegrasikan ranah kognitif, psikomotorik dan afektif dalam sebuah perilaku pekerjaan secara utuh. Dengan demikian dalam konteks kebudayaan, KBK mengandung makna life long learning.  Sehubungan dengan itu, maka kurikulum yang disusun selain bermuatan isi juga lebih memperhatikan dasar kompetensi yang menjadi learning outcomes, dan isi mata kuliah lebih bersifat kontekstual/kemasyarakatan dan berbasis pada pembuktian/bukti nyata. Pada kurikulum berbasis isi (Content based Curiculum)  pengajaran masih berpusat pada pengajar, sedangkan dalam KBK pusat kegiatan diarahkan pada mahasiswa, sehingga strategi pengajarannya adalah mengajarkan bagaimana belajar (teaching how to learn) dengan menggunakan tidak hanya fasilitas dalam kelas, tetapi juga luar kelas dengan metoda evaluasi berorientasi pada proses dan pemecahan masalah. Dengan demikian pada KBK diharapkan bahwa BELAJAR adalah mencari dan mengkonstruksikan (membentuk) pengetahuan, BUKAN menerima pengetahuan, sehingga pembelajar harus aktif dan spesifik caranya. Oleh karenanya dari sisi dosenpun seyogyanya tidak hanya sebagai pengajar melainkan juga difokuskan pada peran sebagai mediator dan fasilitator. Tugas dosen sebagai mediator dan fasilitator dalam pembelajaran:

(1)  Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan mahasiswa bertanggung jawab dalam membuat tugas-tugasnya;

(2)  Menyediakan/memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan, membantu mengekspresikan gagasan-gagasannya, dan mengkomunikasikan idenya;

(3)  Menyediakan sarana yang merangsang mahasiswa berfikir secara produktif;

(4)  Memonitor, mengevaluasi, dan menunjukkan jalan tidaknya pemikiran mahasiswa.

Melalui peran dosen seperti ini diharapkan lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan bidangnya.

Apabila disimak dari Kepmendiknas No 045/U/2002, yang dimaksud dengan Kompetensi adalah:

”seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu”.

Pada prinsipnya kompetensi tersebut mengandung makna sebuah atau beberapa spesifikasi pengetahuan, keterampilan dan penerapan dari pengetahuan dan keterampilan tersebut yang memenuhi suatu standar atau kinerja dan diperoleh dari outcomes pembelajaran. Berdasarkan Kepmen tersebut, setiap kurikulum program studi hendaknya mengandung elemen-elemen kompetensi yang terdiri dari:

(a)   Landasan kepribadian

(b)  Penguasaan ilmu dan keterampilan

(c)   Kemampuan berkarya

(d)  Sikap dan perilaku dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan ilmu dan keterampilan yang dikuasai

(e)   pemahaman kaidah berkehidupan bermasyarakat sesuai dengan pilihan keahlian dalam berkarya.

Konsekuensinya kurikulum yang disusun seharusnya mengandung elemen-elemen sebagaimana tercantum di atas, dan tidak terjebak pada pengertian bahwa mata kuliah harus dikelompokkan berdasarkan elemen tersebut. Pengelompokkan mata kuliah lebih ditekankan pada cluster of thinking dari the four pillars UNESCO yaitu learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together. Oleh karenanya, dianjurkan agar tiap elemen kompetensi diuraikan lebih rinci dalam hal  kompetensi utama, kompetensi pendukung dan kompetensi lainnya. Selanjutnya,  para perancang kurikulum memikirkan bahwa untuk memenuhi kompetensi-kompetensi itu dibutuhkan beragam mata kuliah, cara penyampaiannya dan cara evaluasinya. Hal ini berarti bahwa satu mata kuliah boleh jadi akan diberikan untuk memenuhi lebih dari satu kompetensi, dan sebaliknya satu jenis kompetensi/sub kompetensi boleh jadi akan dipenuhi oleh lebih dari satu mata kuliah. Disamping itu, para perancang kurikulum seharusnya juga memikirkan tentang cara penyampaian materi agar kompetensi tertentu dapat dikuasai oleh peserta didik/pembelajar, dan sekaligus merancang tentang cara evaluasi yang sesuai untuk mengetahui bahwa kompetensi tersebut sudah dikuasai oleh peserta didik/pembelajar. Dengan demikian proses pembelajaran dalam KBK lebih memfokuskan pada bagaimana mengubah mahasiswa yang belum kompeten dalam satu bidang menjadi lulusan yang kompeten di bidangnya.

Bagaimana merumuskan KBK?

Terdapat dua unsur penting yang perlu diperhatikan pada perumusan kurikulum berbasis kompetensi yaitu: (1) unsur scientific vision dan (2) market signal . Sientific vision merupakan pandangan dan pendapat para pakar atau kelompok pengajar yang berwawasan ke depan sehingga mampu menduga kemampuan lulusan bidang agroteknologi yang diperlukan di dunia kerja di masa yang akan datang berdasarkan pada perkembangan ilmu dan teknologi manajemen yang dikembangkannya.  Market signal merupakan sinyal permintaan pasar terhadap kompetensi lulusan bidang manajemen yang mampu bekerja di dunia kerja secara berkualitas dan profesional. Market signal ini dapat diperoleh dari para alumni, pengguna (dunia industri dan profesi) serta mahasiswa. 

Merumuskan kurikulum berbasis kompetensi diawali dengan mengevaluasi diri Program Studi dengan menggunakan analisis KEKEPAN (kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan), guna mendapatkan informasi tentang kemampuan program studi dalam aspek manajerial, sumberdaya manusia, sumber daya fasilitas, sumberdaya finansial dan lingkungan akademik. Analisis ini juga dipengaruhi oleh adanya visi dan misi serta tata nilai yang dibangun dalam program studi tersebut yang dikenal dengan scientific vision.

Kedua unsur tersebut dipadukan guna merumuskan profil lulusan yaitu peran yang diharapkan dapat dilakukan nantinya oleh lulusan didunia kehidupan. Peran ini bisa menunjuk kepada suatu profesi (dokter, arsitek, pengacara) atau jenis pekerjaan yang khusus (manager perusahaan, praktisi hukum, akademisi) atau bentuk kerja yang bisa digunakan dalam beberapa bidang yang lebih umum (komunikator, kreator, leader, negosiator) yang dicanangkan oleh Program Studi penyusun KBK. Jadi profil lulusan ini dirumuskan untuk memberi ciri lulusan dengan mempertimbangkan visi, misi, tata nilai PT, masukan dari para pengguna, alumni, asosiasi dan pemangku kepentingan. Hal lain yang jadi penunjang keputusan merumuskan profil lulusan yaitu prediksi lapangan kerja akibat arah pembangunan di Indonesia baik mereka sebagai job seeker maupun job creator. Bagan selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 1.

Apabila profil lulusan sudah dirumuskan maka langkah selanjutnya adalah menyusun komponen kompetensi apa yang harus ada dalam rangka membentuk profil lulusan tersebut?. Kompetensi ini dalam KBK PT terdiri dari kompetensi utama/inti, kompetensi penunjang dan kompetensi lainnya. Kompetensi utama ialah kemampuan seseorang untuk menampilkan kinerja yang memadai pada suatu kondisi pekerjaan yang memuaskan. Kompetensi pendukung ialah kemampuan seseorang yang dapat mendukung kompetensi utama, sedangkan kompetensi lainnya ialah kemampuan seseorang yang berbeda dengan kompetensi utama dan pendukung namun membantu meningkatkan kualitas hidup. Kompetensi lainnya boleh tidak ada dalam kurikulum jika memang tidak diperlukan. Namun, yang penting diketahui adalah bahwa semua kompetensi tersebut harus berisi muatan-muatan yang akan menanamkan landasan kepribadian, mingkatkan penguasaan ilmu dan keterampilan, sehingga dapat diprediksi bahwa lulusan akan mampu berkarya dengan sikap dan perilaku menurut tingkat keahlian berdasarkan ilmu dan keterampilan yang dikuasai dan mampu meningkatkan pemahaman kaidah berkehidupan bermasyarakat sesuai dengan pilihan keahlian dalam berkarya. Dengan demikian kurikulum berbasis kompetensi tidak saja memberikan peningkatan dalam hard skills melainkan juga soft skills. Seyogyanya seorang lulusan program studi agroteknologi nantinya mampu memiliki intra personal concern, interpersonal concern dan juga extra personal concern. Artinya ia tidak hanya menguasai ipteks yang baik, tetapi ia juga mampu mengkomunikasikan ilmunya baik dengan kerja mandiri maupun dalam tim melalui cara berfikir kritis, logis dan analitisnya. Apabila ia menjadi pengusaha maka ia akan menjadi pengusaha yang arif, peduli terhadap lingkungan sekeliling dan tidak serakah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

diagram penyusunan kbk

Gambar 1. Diagram alir penyusunan kurikulum berbasis kompetensi di Perguruan Tinggi

Ciri-ciri kurikulum berbasis kopmpetensi diantaranya adalah:

(1)   kompetensi dinyatakan secara jelas dari proses pembelajaran,

(2)   proses pembelajaran berorientasi kepada pencapaian kompetensi dan berfokus pada mahasiswa,

(3)   lebih mengutamakan kesatuan penguasaan ranah kognitif, psikomotorik dan afektif, 

(4)   proses penilaian hasil belajar lebih ditekankan pada kemampuan untuk mendemonstrasikan kognitif, psikomotorik dan afektif.

Dapat disimpulkan bahwa prinsip penyusunan kurikulum berbasis kompetensi didasarkan pada penyusunan kompetensi lulusan yang diharapkan memenuhi kebutuhan dan tuntutan masyarakat profesi (professional needs), masyarakat industri (industrial needs) maupun masyarakat secara luas (societal needs).  Masyarakat menuntut dan membutuhkan lulusan yang memiliki kompetensi kepribadian (soft skills) dan kompetensi keprofesian (hard skills). Kompetensi kepribadian lebih banyak mengandung unsur sikap, sedangkan kompetensi keprofesian lebih menekankan pada kemampuan menggunakan pengetahuan dan keterampilan dengan kearifan pada bidangnya.

Boleh jadi satu kompetensi memiliki beberapa sub kompetensi tertentu jika diinginkan.  Tahap kedua setelah merumuskan kompetensi yaitu mengetahui unjuk kerja/kinerja masing-masing kompetensi yang akan mempengaruhi cara penilaian kinerja masing-masing kompetensi yang dapat mendemonstrasikan ranah kognitif, psikomotorik dan afektif. Tahap ketiga yaitu merumuskan cara penyampaian muatan mata kuliah agar dapat dinilai sesuai dengan unjuk kerja yang dimaksud dan tahap keempat adalah merumuskan bahan kajian yang akan diturunkan menjadi nama mata kuliah yang akan diberikan.  Road map mata kuliah dapat dibuat untuk mengevaluasi kesempurnaan pencapaian kompetensi beserta elemen-elemennya.  Road map mata kuliah ini seyogyanya dapat menunjukkan keterkaitan satu mata kuliah dengan mata kuliah lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi atau sub kompetensi tertentu, sekaligus akan menunjukkan relevansi kurikulum dengan kompetensi di dunia kerja. Sistem matriks antara mata kuliah versus kompetensi yang diberikan dapat dibuat untuk memeriksa apakah kompetensiyang telah disusun telah diakomodir oleh beragam mata kuliah?. Satu mata kuliah boleh jadi dapat memberikan satu atau lebih kompetensi, lalau satu kompetensi juga dapat dibangun melalui satu atau lebih mata kuliah.

 

Penutup

KBK, jika diterapkan sesuai dengan prosedur akan menjamin lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan kehidupan dunia kerja. Untuk ini, diperlukan terjadinya proses penjaminan mutu dengan unit pembelajaran yang lebih baik. Ciri-ciri lulusan yang kompeten yaitu (1) mempunyai kemampuan berlandaskan pada pengembangan kepribadian, (2) berkemampuan menguasai IPTEKS dan keterampilan, (3) berkemampuan berkarya, (4) berkemampuan menyikapi dan berperilaku dalam berkarya, dan (5) berkemampuan untuk hidup bermasyarakat dengan bekerjasama,, saling menghargai nilai-nilai pluralisme dan kedamaian. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa lulusan yang kompeten harus mempunyai kemampuan Knowledge of field dan knowledge of tehcnology yang didukung oleh (1) kemampuan berkomunikasi secara  oral dan tertulis, (2) kemampuan mengunakan logikanya dan menganalisis suatu problema, (3) kemampuan bekerjasama dalam tim dan bekerja secara mandiri.

Menilik KBK secara mendalam akan mengusik ketentraman dan kenyamanan para pengajar saat ini. Acapkali para pengajar berujar ”sulit untuk menerapkannya”. Kesulitan itu akan tetap sulit kalau kita enggan untuk berubah. Mungkin akan lebih bijak menyikapinya jika kita mulai ubah saja dulu proses pembelajaran yang biasa kita terapkan dengan Teacher Centered perlahan menjadi Student Centered Learning.  Memotivasi dan memfasilitasi mahasiswa dan sekaligus memberi umpan balik dalam proses pembelajaran, mungkin akan dapat menggairahkan mereka untuk berargumentasi dan berpendapat.  Memberikan tugas-tugas, memberi kesempatan presentasi, seminar, membuat model dan membuat konsep tentang manajemen produksi mungkin akan membuat mereka aktif-berdaya. Pada akhirnya, jika tidak hanya satu metode KULIAH saja yang diberikan di kelas, mahasiswa akan menjadi pembelajar sepanjang hayat, walau tanpa kehadiran dosen lagi karena mereka telah menemukan method of inquiry dan sumber belajar yang beragam.  

Tiada kata sulit jika kita mau berubah, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil dan mulai dari sekarang (kata AA Gym).    

 Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang memerlukannya. Semoga kita termasuk kepada golongan orang yang mau berubah demi kebaikan dan peningkatan kualitas pendidikan di negara tercinta ini. Sukses selalu untuk Anda…..

 

 

 

  

 

Mohon Diri

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wa barakatuh,

Dengan telah berakhirnya masa jabatan sebagai Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan pada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, maka saya mohon diri dan mengucapkan terima kasih atas kerjasama yang terbina, dukungan yang memotivasi, komunikasi yang lancar, dan doa selama ini.

Saya mohon maaf yang setulusnya sekiranya selama berinteraksi ada sikap, perilaku, serta tutur kata yang kurang santun, dan senantiasa berharap agar silaturrahim tetap terjalin dengan baik.

Semoga Allah swt senantiasa memberikan kekuatan untuk kita bersama memajukan pendidikan tinggi di indonesia.

Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wa barakatuh.

Jakarta, 15 Juli 2015

Illah Sailah

illah

(Bab I dari buku Pengembangan Soft Skills di Perguruan Tinggi)

Ada pelajaran menarik yang dapat diambil dari sebuah buku berjudul Lesson From The Top karangan Neff dan Citrin (1999).

Pada tahap pertama, penulis buku meminta kepada sekitar 500 orang (CEO dari berbagai perusahaan, LSM, dan dekan/rektor perguruan tinggi) agar mereka menominasikan 50 nama orang-orang yang menurut mereka tersukses di Amerika. Dari mereka, akhirnya diperoleh 50 nama yang beberapa di antaranya adalah:

 

¨  Jack Welch (General Electric)

¨     Bill Gates (Microsoft)

¨     Andy Grove (Intel)

¨     Lou Gerstner (IBM)

¨     Michael Dell (Dell Computer)

¨     Mike Armstrong (AT&T)

¨     John Chambers (Cisco System)

¨     Frederick Smith (Federal Express)

¨     Steve Case (America Online)

¨     Elizabeth Cole (American Red Cross)

¨     Bob Eaton (DaimlerChrysler)

¨     Michael Eisner (Walt Disney)

¨     Ray Gilmartin (Merck)

¨     Hank Greenberg (AIG)

¨     Sandy Weill (Citigroup)

¨     Alex Trotman (Ford Motor Company)

¨     Bill Steere (Pfizer)

¨     Howard Schultz (Starbucks)

¨     Ralph Larsen (johnson&Johnson)

¨     Walter Shipley (Chase Manhattan)

 

Tahap berikutnya, penulis buku mewawancarai 50 orang terpilih tersebut satu-per-satu. Dalam wawancara tersebut antara lain ditanyakan rahasia sukses para pengusaha tersebut. Jawaban mereka kemudian di rangkum di dalam bab kesimpulan yang memuat 10 kiat yang menurut 50 orang tersebut paling menentukan kesuksesan mereka.

 

Tahukah Anda? Dari sepuluh kiat sukses tersebut tak satupun menyebut pentingnya memiliki keterampilan teknis alias hardskills sebagai persyaratan untuk sukses di dunia kerja. Lima puluh orang tersebut seolah sepakat bahwa yang paling menentukan kesuksesan mereka bukanlah keterampilan teknis, melainkan kualitas diri yang termasuk dalam katagori keterampilan lunak (softskills) atau keterampilan berhubungan dengan orang lain (people skills). Di Jerman dikenal juga dengan istilah strategical skills atau key qualifications.

 

Berikut  ini adalah 10 kiat sukses 50 orang tersukses di Amerika tersebut.

 

Ten Common Traits of the Best Business Leaders

 

  1. Passion
  2. Intelligence and clarity of thinking
  3. Great communication skills
  4. High energy level
  5. Egos in check
  6. Inner peace
  7. Capitalizing early life experience
  8. Strong family lifes
  9. Positive attitude
  10. Focus on “doing the right things right”

 

Mari kita perhatikan, kiat sukses nomor satu ternyata adalah “passion”, gairah, atau semangat yang membara. Orang bijak menterjemahkan semangat sebagai burning desire yang diwujudkan dalam bentuk: “bersedia mencurahkan apapun yang dipunyai untuk apapun yang sedang dikerjakan.”  Karena definisinya demikian, tak heran jika 50 orang sukses tadi menempatkan “semangat” sebagai modal pertama untuk meraih kesuksesan.

 

Yang menjadi pertanyaan, “semangat” itu -andaikan bisa diajarkan- akan diajarkan melalui mata pelajaran apa dan diajarkan oleh siapa dengan cara bagaimana?

 

Kata orang bijak, semangat itu tidak bisa diajarkan, tetapi bisa ditularkan. Dengan demikian tugas dosen di perguruan tinggi bukan mengajarkan semangat, melainkan menularkannya. Artinya, para dosen perlu bersemangat terlebih dahulu supaya dapat menularkan. Apakah mahasiswa akan bersemangat jika selama 100 menit tatap muka di kelas, dosen mengajar sambil duduk dengan tayangan berbentuk transparansi yang sudah usang 10 tahun yang lalu ? Nah, ini baru soal menularkan kiat nomor satu. Lalu bagaimana dengan sembilan kiat sukses lainnya?

 

Ceritera diatas tadi bukan berarti tidak mementingkan hard skills dalam dunia usaha dan dunia kerja atau dunia bisnis sekalipun. Namun beberapa buku selalu menekankan bahwa di dalam dunia nyata tersebut soft skills sangat menonjol peranannya dalam membawa orang mampu bertahan di puncak sukses. Dengan kata lain:

 

”We HIRE people for their technical skills,

but then….

 We FIRE them for behavioral faults”

 

Pernah di suatu masa awal tahun 80-an, ada seorang ginekolog wanita di suatu kota. Karena ia wanita, maka ibu-ibu lebih senang ditangani dokter tersebut saat persalinan. Namun sikapnya kurang ramah, bahkan cenderung “judes”. Setelah beberapa saat bermunculan ginekolog wanita lainnya, yang lebih ramah dan sabar saat menunggui persalinan, maka para pasien dokter itu mulai mundur teratur. Acapkali kita juga sering menghadapi seorang dokter yang kemampuan untuk mengobati pasien sangat bagus, namun kurang mampu berkomunikasi, sikap yang arogan dan cenderung kurang berempati terhadap pasien.  Pengalaman anak pertama penulis yaitu Irham, ketika duduk di kelas satu Ironside State School Brisbane Australia, setiap hari Rabu minggu ke tiga selalu dikunjungi dokter gigi. Saat namanya di panggil dan harus berjalan ke mobil dokter (bentuk caravan), ia ketakutan, namun setelah di dalam ruang pemeriksaan dokter tersebut dapat merubah ketakutan menjadi pengalaman yang menyenangkan. Dokter tersebut membuka percakapan dengan sapaan “hallo young man, how is it going today?”, lalu dokter itu menerangkan alat-alat sekitar tempat duduk anak itu, lalu meminta mencoba memijit tombol untuk menaik turunkan kursi dst. Akhirnya ia tidak takut lagi pergi sendiri ke ruangan dokter, bahkan dengan senang hati.

 

Di masa persaingan yang ketat saat ini, rasanya sudah tidak dapat ditawar-tawar lagi bahwa hard skills dan soft skills harus seiring dan sejalan dalam pengembangannya di perguruan tinggi sebagai pencetak sumberdaya yang tangguh dan unggul.

 

Penulis pun pernah memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan, ketika ingin audiensi dengan seorang Bupati di Jawa Barat. Waktu untuk bertemu sudah disepakati melalui ajudan dan sekretarisnya dengan menggunakan media telepon (tidak mudah untuk bertemu langsung dengan pejabat di negeri kita). Setelah datang dan diterima oleh penerima tamu dikatakan bahwa ”Bapak sedang menerima tamu”. Lalu penulis menunggu dengan sabar sampai dua jam, hingga tidak ada kepastian kapan Bapak Bupati itu selesai menerima tamu. Bukan itu saja, penerima tamu di ruang Bupati pun tidak ada inisiatif untuk memberikan sekedar air minum putih kepada tamunya (mungkin tidak ada SOP untuk itu). Setelah 2.5 jam, dengan senang hati penulis melihat Bupati keluar dari ruangannya, namun… Beliau benar-benar keluar dan staff di kantor itupun tidak tahu mau kemana beliau pergi. Akhirnya karena sudah tengah hari, penulispun pamit untuk keluar mencari kantin di sekitar itu dan tempat sholat. Baru saja makanan datang penerima tamu tersebut sudah nyusul dan berkata kalau Bapak sudah ada di ruangannya lagi.  Setelah masuk ke ruangan Bupati, kami diterima dengan dingin dan beliau pun tidak minta maaf karena sudah telat menerima penulis. Lalu penulis utarakan maksud dan tujuan audiensi ini bukan untuk meminta bantuan tetapi Perguruan Tinggi akan memberi bantuan pada masyarakatnya. Barulah suasana mencair dan kami pun senang karena melihat wajah yang berubah.    

 

Sepanjang jalan pulang, saya hanya berandai dan berharap. Andai saja karyawan kita diajari bagaimana melayani dengan baik, berempati, memiliki inisiatif dan selalu berprasangka baik, alangkah indahnya silaturahmi ini. Tapi saya juga berharap agar hal-hal yang berkaitan dengan pelayanan dapat ditularkan pada saat calon karyawan masih duduk di sekolah. Hal ini akan sangat cepat penularannya jika dimulai dari pemimpin yang melakukan pelayanan prima, artinya pelayanan prima harus dimulai dari pimpinan.

 

Selain 10 kiat sukses tersebut, para pengusaha di dalam buku Lesson From the Top juga menambahkan enam prinsip utama (six core principles)  bagi suksesnya orang-orang sukses, yaitu:

 

¨        live with integrity,

¨        develop a winning strategy,

¨        build a great management team,

¨        inspire employees,

¨        create a flexible organization, and

¨        implement relevant systems.

 

Sepuluh kiat sukses dan enam prinsip inti tersebut di atas semakin menegaskan pentingnya softskills bagi para lulusan perguruan tinggi sebagai calon pekerja dan pengusaha serta pemimpin masyarakat. Sadar atau tidak, diri kita seringkali menilai orang lain (terutama yang kita kagumi) dari sikap dan perilakunya. Artinya apa? Kita pun akan dinilai orang karena sikap dan perilaku kita. Jadi betapa pentingnya bagi kita untuk selalu memelihara sikap dan perilaku yang menyenangkan dan diterima baik oleh masyarakat.

 

Bila sejak awal mahasiswa dibekali dengan pengetahuan tentang softskills yang cukup dan bahkan sudah terbiasa mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari maka  peluang mereka untuk menjadi orang sukses di masyarakat akan semakin besar.  Perlu banyak contoh yang mahasiswa lihat di lingkungan perguruan tinggi. Contoh ini mulai dari pimpinan perguruan tinggi, dosen dan para staf penunjang yang menjadi frontliners yang berhubungan langsung dengan mahasiswa. Jika mahasiswa terbiasa diperlakukan baik dan terhormat, lambat atau cepat mereka akan menjadi pelayan yang baik di masyarakat. Inilah yang dimaksud dengan penularan yang paling sederhana.

 

Sesuatu yang akan kita tularkan kepada orang lain menghendaki diri kita tertular terlebih dahulu. Layaknya seseorang yang menularkan penyakit flu, dapat dipastikan dirinya telah tertular terlebih dahulu, sebelum menular kepada orang lain. Artinya, apabila kita ingin menerapkan aturan disiplin untuk datang tidak terlambat kepada mahasiswa, maka seyogyanya dosen harus datang tepat waktu di dalam kelas dan juga tidak terlalu cepat untuk mengakhiri tatap muka di kelas. Apabila dosen ingin menularkan rasa tanggungjawab kepada mahasiswa dengan memberi tugas dan tugas tersebut dikumpulkan dalam waktu dua minggu (misalnya), maka dosen pun harus berupaya untuk mengembalikan tugas tersebut dengan umpan balik kepada mahasiswa sesuai dengan waktu yang dijanjikan kepada mahasiswa. Itu hanya beberapa contoh sikap dan perilaku yang perlu dicermati dan dimiliki dosen  terlebih dahulu.

 

Beberapa penyakit yang sekarang sedang melanda secara nasional yaitu pertama, kalau hadir ke pertemuan atau kelas, mahasiswa atau dosen selalu memilih duduk paling belakang, dan jarang yang berani duduk di kursi atau barisan depan. Lalu penyakit kedua adalah malas untuk bertanya di dalam forum-forum resmi seperti kuliah, seminar dan lokakarya. Penyakit ketiga adalah kebiasaan ngobrol pada saat ada orang yang berbicara di podium. Ketiga penyakit ini kalau dipelihara maka akan membuahkan karakter buruk bagi bangsa Indonesia.

     

Lantas bagaimana mencegah agar hal ini tidak berkelanjutan?. Jawabannya perlu pergeseran paradigma dalam berperilaku dan bertindak. Bagaimana agar dosen dosen mengidap “good soft skills” terlebih dahulu? Jawabannya, buka hati dan pikiran untuk senantiasa memberikan yang terbaik kepada anak didik kita, tetap berpegang pada nilai-nilai kehidupan dan norma-norma dasar yang disepakati, baca buku dan mau belajar lebih banyak secara terus menerus.

 

Apabila dicermati dari kenyataan yang ada, baik dari perbincangan informal maupun hasil penelusuran atau kajian formal, maka rasio kebutuhan soft skills dan hard skills di dunia kerja/usaha berbanding terbalik  dengan pengembangannya di perguruan tinggi (sebagaimana yang terlihat pada gambar di bawah ini.  Gambar 1 menunjukkan bahwa yang membawa atau mempertahankan orang di dalam sebuah kesuksesan di lapangan kerja yaitu 80% ditentukan oleh mind set yang dimilikinya dan 20% ditentukan oleh technical skills.  Namun, pada Gambar 2 dapat dilihat bahwa di perguruan tinggi atau sistem pendidikan kita saat ini, soft skills hanya diberikan rata-rata 10% saja dalam kurikulumnya. Jadi, bagaimana baiknya agar proses pendidikan kita dapat mensinergikan antara soft skills dan hard skills dengan baik?, sementara jumlah satuan kredit mahasiswa sudah cukup banyak.

Gambar 1. Persentase soft skills sebagai komponen sukses

 Gambar 2. Porsi soft skills yang diberikan dalam sistem pendidikan

Mengamati Gambar 1 dan 2, di dunia pendidikan perlu ada pergeseran paradigma berfikir dan bertindak dari fokus pada hard skills saja menjadi mensinergikan antara hard skills dengan soft skills. Bagaimana agar penularan soft skills ini bukan merupakan beban sks yang sudah begitu banyaknya di Perguruan Tinggi, dan bagaimana agar penularannya tidak terasa ada pemaksaan baik bagi dosen maupun mahasiswa. Salah satu caranya yaitu dengan melakukan penularan soft skills melalui Hidden Curriculum.

 

 

Success consists of going from failure to failure without loss of enthusiasm (Winston Churchill)

 

 

Moral excellence comes about as a result of habit. We become just by doing just acts, temperate by doing temperate acts, brave by doing brave acts (Aristotle)

Conflict Resolution

 

Conflict Resolution

Conflict resolution is the process of attempting to resolve a dispute or a conflict. Successful conflict resolution occurs by listening to and providing opportunities to meet the needs of all parties, and to adequately address interests so that each party is satisfied with the outcome. Conflict Practitioners talk about finding the win-win outcome for parties involved, vs. the win-lose dynamic found in most conflicts. While ‘conflict resolution’ engages conflict once it has already started , ‘conflict prevention’ aims to end conflicts before they start or before they lead to verbal, physical, or legal fighting or violence.

Conflict itself has both positive and negative outcomes. Practitioners in the field of Conflict Resolution aim to find ways to promote the positive outcomes and minimize the negative outcomes.

There is a debate in the field of conflict work as to whether or not all conflicts can be resolved, thus making the term conflict resolution one of contention. Other common terms include Conflict Management, Conflict Transformation and Conflict Intervention. Conflict management can be the general process in which conflict is managed by the parties toward a conclusion. However it is also referred to as a situation where conflict is a deliberate personal, social and organizational tool, especially used by capable politicians and other social engineers.

(Source : wikipedia.org)

 

Never too Old to Learn Soft Skills

Our education system and mindset, historically, has been oriented towards technical knowledge and expertise. The focus so far has been on qualifications that boast of specialisation in various fields. However, the globalisation of the industries and job scene has suddenly found us wanting in the area of soft skills. These skills are essential for the success of any individual as well as an organisation. Business communication, business etiquette, leadership, team building, relationship management, and time management are some of these soft skills.

In hard skills, training parameters are clear and specific to the job. As technology and processes undergo continuous changes, imparting of hard skills is a regular process. Without hard skills you cannot work. Soft skills, on the other hand, are difficult to imbibe, and require discipline and focus to learn. Impact of soft skills may not be direct, but is as strong if not more than hard skills. Lack of soft skills is a silent killer.

A person who has excellent technical knowledge, but lacks in communication skills or time management skills, can’t be efficient. We all work in teams, and soft skills are the necessary lubricant to make teams work. Teaching soft skills is a long drawn process. There are four stages to learning:
Stage 1: Unconscious incompetence
Stage 2: Conscious incompetence
Stage 3: Conscious competence
Stage 4: Unconscious competence
For us to reach the stage 4 of learning soft skills, it takes anywhere between 6 – 12 months.

Soft skills can be developed with training, coaching and experience. If the gap is not substantial, then regular and identified gap areas need to be worked upon. Motivation and positive attitude are two necessary attributes for learning soft skills. An essential requirement for improving soft skills is motivation. It has been seen that as people become more mature and experienced, they feel that they `know it all’ and do not need any learning. Such an attitude works like a disease, which stills one’s growth.

One is never too old to learn soft skills. Anyone and everyone can go through training and counselling sessions. Soft skill sessions, would not only help in opening the mindsets, but also bring some of these skills to the top of one’s mind so he or she starts paying attention to the finer details. As society changes, so do soft skills. If we need to survive and succeed (in that order) in the corporate world, we should be open and ready for change in soft skills.

(Excerpted from : Sarves Gulati, the chief of New Delhi-based Softspan (India) Pvt Ltd, and the author of Corporate Softskills)