Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘pengembangan soft skills di perguruan tinggi’

(Bab I dari buku Pengembangan Soft Skills di Perguruan Tinggi)

Ada pelajaran menarik yang dapat diambil dari sebuah buku berjudul Lesson From The Top karangan Neff dan Citrin (1999).

Pada tahap pertama, penulis buku meminta kepada sekitar 500 orang (CEO dari berbagai perusahaan, LSM, dan dekan/rektor perguruan tinggi) agar mereka menominasikan 50 nama orang-orang yang menurut mereka tersukses di Amerika. Dari mereka, akhirnya diperoleh 50 nama yang beberapa di antaranya adalah:

 

¨  Jack Welch (General Electric)

¨     Bill Gates (Microsoft)

¨     Andy Grove (Intel)

¨     Lou Gerstner (IBM)

¨     Michael Dell (Dell Computer)

¨     Mike Armstrong (AT&T)

¨     John Chambers (Cisco System)

¨     Frederick Smith (Federal Express)

¨     Steve Case (America Online)

¨     Elizabeth Cole (American Red Cross)

¨     Bob Eaton (DaimlerChrysler)

¨     Michael Eisner (Walt Disney)

¨     Ray Gilmartin (Merck)

¨     Hank Greenberg (AIG)

¨     Sandy Weill (Citigroup)

¨     Alex Trotman (Ford Motor Company)

¨     Bill Steere (Pfizer)

¨     Howard Schultz (Starbucks)

¨     Ralph Larsen (johnson&Johnson)

¨     Walter Shipley (Chase Manhattan)

 

Tahap berikutnya, penulis buku mewawancarai 50 orang terpilih tersebut satu-per-satu. Dalam wawancara tersebut antara lain ditanyakan rahasia sukses para pengusaha tersebut. Jawaban mereka kemudian di rangkum di dalam bab kesimpulan yang memuat 10 kiat yang menurut 50 orang tersebut paling menentukan kesuksesan mereka.

 

Tahukah Anda? Dari sepuluh kiat sukses tersebut tak satupun menyebut pentingnya memiliki keterampilan teknis alias hardskills sebagai persyaratan untuk sukses di dunia kerja. Lima puluh orang tersebut seolah sepakat bahwa yang paling menentukan kesuksesan mereka bukanlah keterampilan teknis, melainkan kualitas diri yang termasuk dalam katagori keterampilan lunak (softskills) atau keterampilan berhubungan dengan orang lain (people skills). Di Jerman dikenal juga dengan istilah strategical skills atau key qualifications.

 

Berikut  ini adalah 10 kiat sukses 50 orang tersukses di Amerika tersebut.

 

Ten Common Traits of the Best Business Leaders

 

  1. Passion
  2. Intelligence and clarity of thinking
  3. Great communication skills
  4. High energy level
  5. Egos in check
  6. Inner peace
  7. Capitalizing early life experience
  8. Strong family lifes
  9. Positive attitude
  10. Focus on “doing the right things right”

 

Mari kita perhatikan, kiat sukses nomor satu ternyata adalah “passion”, gairah, atau semangat yang membara. Orang bijak menterjemahkan semangat sebagai burning desire yang diwujudkan dalam bentuk: “bersedia mencurahkan apapun yang dipunyai untuk apapun yang sedang dikerjakan.”  Karena definisinya demikian, tak heran jika 50 orang sukses tadi menempatkan “semangat” sebagai modal pertama untuk meraih kesuksesan.

 

Yang menjadi pertanyaan, “semangat” itu -andaikan bisa diajarkan- akan diajarkan melalui mata pelajaran apa dan diajarkan oleh siapa dengan cara bagaimana?

 

Kata orang bijak, semangat itu tidak bisa diajarkan, tetapi bisa ditularkan. Dengan demikian tugas dosen di perguruan tinggi bukan mengajarkan semangat, melainkan menularkannya. Artinya, para dosen perlu bersemangat terlebih dahulu supaya dapat menularkan. Apakah mahasiswa akan bersemangat jika selama 100 menit tatap muka di kelas, dosen mengajar sambil duduk dengan tayangan berbentuk transparansi yang sudah usang 10 tahun yang lalu ? Nah, ini baru soal menularkan kiat nomor satu. Lalu bagaimana dengan sembilan kiat sukses lainnya?

 

Ceritera diatas tadi bukan berarti tidak mementingkan hard skills dalam dunia usaha dan dunia kerja atau dunia bisnis sekalipun. Namun beberapa buku selalu menekankan bahwa di dalam dunia nyata tersebut soft skills sangat menonjol peranannya dalam membawa orang mampu bertahan di puncak sukses. Dengan kata lain:

 

”We HIRE people for their technical skills,

but then….

 We FIRE them for behavioral faults”

 

Pernah di suatu masa awal tahun 80-an, ada seorang ginekolog wanita di suatu kota. Karena ia wanita, maka ibu-ibu lebih senang ditangani dokter tersebut saat persalinan. Namun sikapnya kurang ramah, bahkan cenderung “judes”. Setelah beberapa saat bermunculan ginekolog wanita lainnya, yang lebih ramah dan sabar saat menunggui persalinan, maka para pasien dokter itu mulai mundur teratur. Acapkali kita juga sering menghadapi seorang dokter yang kemampuan untuk mengobati pasien sangat bagus, namun kurang mampu berkomunikasi, sikap yang arogan dan cenderung kurang berempati terhadap pasien.  Pengalaman anak pertama penulis yaitu Irham, ketika duduk di kelas satu Ironside State School Brisbane Australia, setiap hari Rabu minggu ke tiga selalu dikunjungi dokter gigi. Saat namanya di panggil dan harus berjalan ke mobil dokter (bentuk caravan), ia ketakutan, namun setelah di dalam ruang pemeriksaan dokter tersebut dapat merubah ketakutan menjadi pengalaman yang menyenangkan. Dokter tersebut membuka percakapan dengan sapaan “hallo young man, how is it going today?”, lalu dokter itu menerangkan alat-alat sekitar tempat duduk anak itu, lalu meminta mencoba memijit tombol untuk menaik turunkan kursi dst. Akhirnya ia tidak takut lagi pergi sendiri ke ruangan dokter, bahkan dengan senang hati.

 

Di masa persaingan yang ketat saat ini, rasanya sudah tidak dapat ditawar-tawar lagi bahwa hard skills dan soft skills harus seiring dan sejalan dalam pengembangannya di perguruan tinggi sebagai pencetak sumberdaya yang tangguh dan unggul.

 

Penulis pun pernah memiliki pengalaman yang kurang menyenangkan, ketika ingin audiensi dengan seorang Bupati di Jawa Barat. Waktu untuk bertemu sudah disepakati melalui ajudan dan sekretarisnya dengan menggunakan media telepon (tidak mudah untuk bertemu langsung dengan pejabat di negeri kita). Setelah datang dan diterima oleh penerima tamu dikatakan bahwa ”Bapak sedang menerima tamu”. Lalu penulis menunggu dengan sabar sampai dua jam, hingga tidak ada kepastian kapan Bapak Bupati itu selesai menerima tamu. Bukan itu saja, penerima tamu di ruang Bupati pun tidak ada inisiatif untuk memberikan sekedar air minum putih kepada tamunya (mungkin tidak ada SOP untuk itu). Setelah 2.5 jam, dengan senang hati penulis melihat Bupati keluar dari ruangannya, namun… Beliau benar-benar keluar dan staff di kantor itupun tidak tahu mau kemana beliau pergi. Akhirnya karena sudah tengah hari, penulispun pamit untuk keluar mencari kantin di sekitar itu dan tempat sholat. Baru saja makanan datang penerima tamu tersebut sudah nyusul dan berkata kalau Bapak sudah ada di ruangannya lagi.  Setelah masuk ke ruangan Bupati, kami diterima dengan dingin dan beliau pun tidak minta maaf karena sudah telat menerima penulis. Lalu penulis utarakan maksud dan tujuan audiensi ini bukan untuk meminta bantuan tetapi Perguruan Tinggi akan memberi bantuan pada masyarakatnya. Barulah suasana mencair dan kami pun senang karena melihat wajah yang berubah.    

 

Sepanjang jalan pulang, saya hanya berandai dan berharap. Andai saja karyawan kita diajari bagaimana melayani dengan baik, berempati, memiliki inisiatif dan selalu berprasangka baik, alangkah indahnya silaturahmi ini. Tapi saya juga berharap agar hal-hal yang berkaitan dengan pelayanan dapat ditularkan pada saat calon karyawan masih duduk di sekolah. Hal ini akan sangat cepat penularannya jika dimulai dari pemimpin yang melakukan pelayanan prima, artinya pelayanan prima harus dimulai dari pimpinan.

 

Selain 10 kiat sukses tersebut, para pengusaha di dalam buku Lesson From the Top juga menambahkan enam prinsip utama (six core principles)  bagi suksesnya orang-orang sukses, yaitu:

 

¨        live with integrity,

¨        develop a winning strategy,

¨        build a great management team,

¨        inspire employees,

¨        create a flexible organization, and

¨        implement relevant systems.

 

Sepuluh kiat sukses dan enam prinsip inti tersebut di atas semakin menegaskan pentingnya softskills bagi para lulusan perguruan tinggi sebagai calon pekerja dan pengusaha serta pemimpin masyarakat. Sadar atau tidak, diri kita seringkali menilai orang lain (terutama yang kita kagumi) dari sikap dan perilakunya. Artinya apa? Kita pun akan dinilai orang karena sikap dan perilaku kita. Jadi betapa pentingnya bagi kita untuk selalu memelihara sikap dan perilaku yang menyenangkan dan diterima baik oleh masyarakat.

 

Bila sejak awal mahasiswa dibekali dengan pengetahuan tentang softskills yang cukup dan bahkan sudah terbiasa mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari maka  peluang mereka untuk menjadi orang sukses di masyarakat akan semakin besar.  Perlu banyak contoh yang mahasiswa lihat di lingkungan perguruan tinggi. Contoh ini mulai dari pimpinan perguruan tinggi, dosen dan para staf penunjang yang menjadi frontliners yang berhubungan langsung dengan mahasiswa. Jika mahasiswa terbiasa diperlakukan baik dan terhormat, lambat atau cepat mereka akan menjadi pelayan yang baik di masyarakat. Inilah yang dimaksud dengan penularan yang paling sederhana.

 

Sesuatu yang akan kita tularkan kepada orang lain menghendaki diri kita tertular terlebih dahulu. Layaknya seseorang yang menularkan penyakit flu, dapat dipastikan dirinya telah tertular terlebih dahulu, sebelum menular kepada orang lain. Artinya, apabila kita ingin menerapkan aturan disiplin untuk datang tidak terlambat kepada mahasiswa, maka seyogyanya dosen harus datang tepat waktu di dalam kelas dan juga tidak terlalu cepat untuk mengakhiri tatap muka di kelas. Apabila dosen ingin menularkan rasa tanggungjawab kepada mahasiswa dengan memberi tugas dan tugas tersebut dikumpulkan dalam waktu dua minggu (misalnya), maka dosen pun harus berupaya untuk mengembalikan tugas tersebut dengan umpan balik kepada mahasiswa sesuai dengan waktu yang dijanjikan kepada mahasiswa. Itu hanya beberapa contoh sikap dan perilaku yang perlu dicermati dan dimiliki dosen  terlebih dahulu.

 

Beberapa penyakit yang sekarang sedang melanda secara nasional yaitu pertama, kalau hadir ke pertemuan atau kelas, mahasiswa atau dosen selalu memilih duduk paling belakang, dan jarang yang berani duduk di kursi atau barisan depan. Lalu penyakit kedua adalah malas untuk bertanya di dalam forum-forum resmi seperti kuliah, seminar dan lokakarya. Penyakit ketiga adalah kebiasaan ngobrol pada saat ada orang yang berbicara di podium. Ketiga penyakit ini kalau dipelihara maka akan membuahkan karakter buruk bagi bangsa Indonesia.

     

Lantas bagaimana mencegah agar hal ini tidak berkelanjutan?. Jawabannya perlu pergeseran paradigma dalam berperilaku dan bertindak. Bagaimana agar dosen dosen mengidap “good soft skills” terlebih dahulu? Jawabannya, buka hati dan pikiran untuk senantiasa memberikan yang terbaik kepada anak didik kita, tetap berpegang pada nilai-nilai kehidupan dan norma-norma dasar yang disepakati, baca buku dan mau belajar lebih banyak secara terus menerus.

 

Apabila dicermati dari kenyataan yang ada, baik dari perbincangan informal maupun hasil penelusuran atau kajian formal, maka rasio kebutuhan soft skills dan hard skills di dunia kerja/usaha berbanding terbalik  dengan pengembangannya di perguruan tinggi (sebagaimana yang terlihat pada gambar di bawah ini.  Gambar 1 menunjukkan bahwa yang membawa atau mempertahankan orang di dalam sebuah kesuksesan di lapangan kerja yaitu 80% ditentukan oleh mind set yang dimilikinya dan 20% ditentukan oleh technical skills.  Namun, pada Gambar 2 dapat dilihat bahwa di perguruan tinggi atau sistem pendidikan kita saat ini, soft skills hanya diberikan rata-rata 10% saja dalam kurikulumnya. Jadi, bagaimana baiknya agar proses pendidikan kita dapat mensinergikan antara soft skills dan hard skills dengan baik?, sementara jumlah satuan kredit mahasiswa sudah cukup banyak.

Gambar 1. Persentase soft skills sebagai komponen sukses

 Gambar 2. Porsi soft skills yang diberikan dalam sistem pendidikan

Mengamati Gambar 1 dan 2, di dunia pendidikan perlu ada pergeseran paradigma berfikir dan bertindak dari fokus pada hard skills saja menjadi mensinergikan antara hard skills dengan soft skills. Bagaimana agar penularan soft skills ini bukan merupakan beban sks yang sudah begitu banyaknya di Perguruan Tinggi, dan bagaimana agar penularannya tidak terasa ada pemaksaan baik bagi dosen maupun mahasiswa. Salah satu caranya yaitu dengan melakukan penularan soft skills melalui Hidden Curriculum.

 

 

Success consists of going from failure to failure without loss of enthusiasm (Winston Churchill)

 

 

Moral excellence comes about as a result of habit. We become just by doing just acts, temperate by doing temperate acts, brave by doing brave acts (Aristotle)

Advertisements

Read Full Post »